Showing posts with label Go to P.P.F.. Show all posts
Showing posts with label Go to P.P.F.. Show all posts

Friday, June 15, 2012

Bead History : Czech Glass Bead

Sebagian dari kalian pasti sudah tidak asing dengan manik kaca dari Republik Czech ini, disini biasanya disebuk manik Ceko. Secara internasional, manik kaca Czech masuk dalam daftar manik manik yang menguasai dunia. Manik kaca Czech terbagi dalam tiga produk utama, yaitu :

Czech Crystal Bead
Gold Plated Filigree Crystal White Czech on ebeadstore
Olivine on Pelece
Sejarah mencatat, kualitas pengrajin kristal Czech atau yang terkenal dengan nama kristal Bohemian, sudah ada sejak 1500-an. Karya mereka seperti lampu kristal dan gelas menjadi populer di istana di seluruh Eropa pada abad ke-18. Pada jaman sekarang ini, kualitas kristal Bohemian sebenarnya dibuat dalam industri rumahan yang lebih kecil atau perusahaan milik keluarga dan dibawa ke pasar oleh perusahaan seperti Preciosa. Penekanan pada produk kristal Czech adalah pada presisi dan kecantikan.

Czech Glass Bead
 Violet Bell Flower on Perpetual Revolution
Feceted Donut on Avedis Beads
Khusus manik kaca, ada salah satu kota di Republik Czech yang sangat terkenal dengan kualitasnya. Jablonex. Disini dihasilkan berbagai ragam bentuk dan warna manik kaca Czech. Mulai dari donat, kotak, fired polish, cathedral, druks, daggers, sampai bentuk bentuk yang ada dialam seperti bunga, daun, hewan, dadu.
Green Flower by Carolinascreations

Czech Seed Bead
 Turquoise on Lucky Spot Shop
Opaque Coral on June Moon Beads
Dan kalau kalian ingin melihat seperti apa sich kira kira Republik Czech itu? Klik here untuk mendapatkan mini blog tur yang dibuat oleh Mortira tentang negara penghasil manik kaca cantik ini. Well...sekarang silahkan tambahkan manik kaca Czech dalam koleksi bahan perhiasan kamu. Dijamin nggak bakalan kecewa kok. Kami juga sempat browsing, kira kira dimana toko lokal yang jual manik kaca Czech. Kami menemukan Vereny OS di Facebook dan juga Smartyhands.
Bohemian Wrap by Dark Ride

Tuesday, May 22, 2012

Bead History : Beads In Indonesia (Part III)

All the information is adapted from a book with title Manik-Manik di Indonesia (Beads In Indonesia). This hardcover book was published in 1993. And it seem to be rare book. We hope the author of the book doesn't mind if the contents of his book to be rewritten on this blog.
  • Hardcover: 164 pages
  • Publisher: Djambatan; Second edition (1993)
  • Authors : Sumarah Adhyatman & Redjeki Arifin
  • Language: Indonesia & English
  • ISBN-10: 9794281697
  • ISBN-13: 978-9794281697


(kiri) Relief batu candi Borobudur abad ke-9 menggambarkan wanita bangsawan dengan kalung kalung manik dilehernya. Dari Bernet Kempers,1959,gb.84
(left) A stone relief at the candi Borobudur, 9th C of a lady of noble birth, around her neck are necklaces of beads. From Bernet Kempers,pl.84
(kanan) Patung batu seorang ratu ditemukan di Tulungagung, Jawa Timur, masa Majapahit, abad 14, mengenakan kalung rumit diduga meniru hiasan dari emas. Dari Bernet Kempers,1959,gb.265
(right) A stone statue of a queen from Tulungagung, East Java, Majapahit period, 14th C, wearing intricates necklaces most probably, imitating gold jewelry. From Bernet Kempers, 1959, pl.265

Pendahuluan
Introduction

Manik adalah benda benda yang biasanya berbentuk bulat, dilubangi dan dironce guna menghias badan atau sebuah benda. Manik dibuat dari berbagai bahan seperti kulit kerang, kayu, getah kayu, biji bijian, merjan, keramik, bati, kaca dan logam.

Beads are objects usually of round shape, which are pierced and strung together to decorate the body or an object. They are made of different materials such as shell, bones, wood, wood-resin, seeds, coral, ceramics, stone, metal and glass.

Daya tahannya, kemudahan membawa serta daya tariknya yang universil telah menjadikan manik mata uang di berbagai belahan dunia ini.

Their durability, portability and universal attraction have made beads units of currency in many parts of the world.

Manik mewakili bentuk seni yang paling tua dan boleh jadi merupakan perhiasan tahan lama pertama manusia yang digandrungi bukan saja karena keindahannya tapi juga karena kemampuannya menolak bala.

They represent the oldest form of art and were probably the first durable ornaments of men desired not only for their beauty but also for their protective qualities.

Di Indonesia manik ditemukan di ekskavasi arkeologis dekat situs candi atau tempat keagamaan, situs pemukiman dan di dalam kuburan. Manik juga masih banyak dipakai sebagai perhiasan pada upacara tradisional dan dianggap sebagai pusaka berharga dibeberapa tempat di Indonesia.

In Indonesia, beads are found in archaeological excavantions near temples or religious sites, sttlements and in graves. Many are still worn as jewelry on traditional ceremonies and regarded as important pusakas in some places in Indonesia.

Tampaknya, di Indonesia, sejak zaman purbakala manik telah memainkan peranan penting dalam upacara upacara kematian karena banyak yang ditemukan dalam kuburan kuburan batu zaman prasejarah (sebelum 400M) seperti di Pasemah, Sumatera, Jawa Barat, Gunung Kidul, Jawa Tengah, Besuki, Jawa Timur dan di Gilimanuk, Bali. Manik manik itu sering ditemukan bersama dengan perkakas dari besi, perunggu dan perhiasan dari emas dan gerabah. Manik dapat pula digunakan sebagai perhiasan. Patung patung prasejarah di Pasemah dan berbagai situs prasejarah lainnya memakai manik.

It appears that since prehistoric times beads have played an important role in funerary rites in Indonesia as they are found in various stone grave sites from the prehistoric period (before AD 400) as in Pasemah, Sumatera, West Java, Gunung Kidul, Central Java, Besuki, East Java and in Gilimanuk, Bali. The beads were often found together with iron tools, bronze and gold ornaments and pottery. Beads may also be used as adornment. Prehistorical statues at Pasemah and various prehistoric sites are wearing beads.

Pada periode klasik (500M - 1500M) manik mungkin digunakan sebagai manik upacara keagamaan dan juga sebagai perhiasan. Relief batu pada candi Budha Borobudur menampilkan para wanita yang memakai kalung manik. Pada situs berlatar belakang agama Budha seperti Palembang dan Muara Jambi di Sumatera manik ditemukan dalam jumlah yang lebih besar daripada di pusat pusat kerajaan seperti Trowulan di Jawa Timur.

In the classical period (AD 500 - AD 1500) beads might have been used as ceremonial prayer beads and also as adornment. Stone reliefs at the Buddhist temple Candi Borobudur depict ladies wearing necklaces of beads. In sites with Buddhistic backgrounds like Palembang and Muara Jambi in Sumatera beads were found in greater quantity than in royal centers like Trowulan in East Java.

Sekitar 1400M, kegemaran memakai manik diistana mungkin telah menghilang. Patung batu dari wanita kerajaan Majapahit, Jawa Timur (1292M - 1522M) memakai kalung yang menyerupai perhiasan emas. Sementara itu kini manik masih berperan penting sebagai perhiasan dan tanda kebesaran, demikian pula dalam upacara upacara tradisional di berbagai bagian Indonesia khususnya di Kalimantan, Nusa Tenggara dan Irian Jaya.

About AD 1400, the fashion of wearing beads in the court might have disappeared. Stone statues of royal ladies of the Majapahit period, East Java (AD 1293 - AD 1522) are waering necklaces resembling gold jewelry. For the present, beads still play an important role as adornment and status symbol as well as in traditional ceremonies in various parts of Indonesia especially in Kalimantan, Nusa Tenggara and Irian Jaya.

Manik lama dari Mesir, India, Cina, Asia Barat dan Eropa juga ditemukan disini. Beberapa contoh manik dari tiga negeri negeri yang pertama disebut, berasal dari tahun 200M. Ini menunjuk pada hubungan dini Indonesia dengan dunia luar sejak awal tarikh Masehi. Jawa (Yeh-t'iao *Garnet 1987, 27 dan Volmer et al, 1983, 28 O.W. Wolters 1967, 34 dan lampiran B, menyangkal saran Pelliot 1904, bahwa Yeh-t'iao adalah transkripsi awal nama Jawa dan episode Huangzhi, namun dewasa ini para ilmuwan Cina sependapat dengan pandangan Pelliot. Berdasarkan laporan Orsoy de Flines 1972 keramik Han telah ditemukan di Banten, Jawa Barat dan di Kerinci, di mata air Sungai Musi, Sumatera*) sudah disebut dalam Hou Han Shu (sejarah dari Han) di tahun 132M. Bab 28 dalam Hou Han Shu juga mengatakan bahwa rakyat dari kepulauan Huangzhi mengarungi lautan dan membeli mutiara, kaca, sutra dan sebagainya dengan emas. Mata dagang Indonesia yang disebut dalam laporan sejarah masa awal adalah emas, kapur barus, kayu cendana, rempah rempah dan cula badak. Berdasarkan sumber sumber dari Yunani dan India perdagangan dengan India dan Asia Barat pada awal tarikh Masehi sudah berjalan ramai.

Old beads from Egypt, India, China, West Asia and Europe are also found here. Some speciments from the first three countries date to AD 200. This indicates the early contacts of Indonesia with the outside worls since the beginning of the Christian era. Java (Yeh-t'iao *Garnet 1987, 27 and Volmer et al. 1983, 28. O.W. Wolters 1967, 34 and appendix B, refuted Pelliot's suggestion 1904 that Yeh-t'iao was an early transcription of Java and the Huangzhi episode, but at present Chinese scholars share Pelliot's view. Based on Orsoy de Flines reports 1972 Han ceramics were found in Banten, West Java and in Kerinci, at the source of the Musi river in Sm=umatera* ) has been mentioned in the Hou Han Shu (the history of the Han) in AD 132. Chapter 28 of the Hou Han Shu also mentions that people of Huangzhi islands sail the seas and buy pearls, glass, silk etc with gold. Indonesian items of trade mentioned in early historical reports were gold, camphor, fragant wood, species and rhinoceros horns. Based on Greek and Indian sources trade with India and West Asia was well on its way in the early Christian centuries.

Manik lama dari beberapa jenis yang sama, ada dengan warna berbeda, telah ditemukan di negeri negeri tetangga seperti Sri Langka, Thailand, Vietnam, Cina, Korea Selatan, Filipina, Malaysia dan Brunei. Hal ini dapat mencerminkan kebiasaan dan selera yang berlaku umum di setiap  kawasan. Perdagangan manik tidak selalu dalam bentuk produk akhir. Bahan baku lebih sering diperdagangkan daripada manik jadi. Sejak zaman Romawi batang kaca mosaik yang sudah dijadikan manik, sudah merupakan mata dagang penting. Dengan peredaran batang batang tersebut, kaca mosaik yang rumit menjadi terjangkau bagi industri kaca yang kurang canggih.

Several identical types of old beads, some of different colors have been found in neighbouring countries such as Sri Langka, Thailand, Vietnam, China, South Korea, Philippines, Malaysia and Brunei. This might reflect the prevailing customs and taste in each region. The trade in beads was not always in the shape of finished products, raw materials have been traded more often than finished beads. Mosaic glass bars from which beads could be easily manufactured were an important trade item since the Roman period. By distributing the bars, complex mosaic glass was made available to less sophisticated glass industries.

on June 5th 2012

Tuesday, May 8, 2012

Bead History : Beads In Indonesia (Part II)

All the information is adapted from a book with title Manik-Manik di Indonesia (Beads In Indonesia). This hardcover book was published in 1993. And it seem to be rare book. We hope the author of the book doesn't mind if the contents of his book to be rewritten on this blog.

  • Hardcover: 164 pages
  • Publisher: Djambatan; Second edition (1993)
  • Authors : Sumarah Adhyatman & Redjeki Arifin
  • Language: Indonesia & English
  • ISBN-10: 9794281697
  • ISBN-13: 978-9794281697

Untaian manik kaca tua berwarna dipasar loak jalan Surabaya, Jakarta. Foto ini diambil pada tahun 1987.
Strings of old colorful glass beads at the flea market in jalan Surabaya, Jakarta. Photo taken in 1987.

PRAKATA
PREFACE

Kami menyambut gembira buku edisi kedua ini yang berarti adanya perhatian dan minat khalayak ramai yang cukup besar akan perihal manik manik yang ditemukan di Indonesia. Dalam cetakan kedua ini kami telah adakan beberapa koreksi yang kami anggap perlu. Namun yang penting adalah bahwa kami berhasil untuk menambahkan data dan foto mengenai manik manik hasil ekskavasi arkeologis yang telah dilakukan oleh Pusat Penelitian Arkeologi Nasional didua situs. Situs pertama adalah Plawangan, Jawa Tengah, sebuah situs prasejarah dan yang kedua adalah di Banten, Jawa Barat, situs dari masa klasik. Data ini cukup penting karena menopang dan mengkonfirmasi dugaan dugaan mengenai pertanggalan beberapa jenis manik yang telah kami temukan sebelumnya dalam edisi pertama.


We are very pleased with the publication of this second edition which is evidence of the great attention for and the attraction of beads found in Indonesia. In this second edition we have made some corrections which we deemed necessary. But most important is that we have succeeded in adding data and photographs of beads from archaeological excavations undertaken by the National Research Center of Archaeology in two sites. The first site is in Plawangan, Central Java, a prehistorical site, and the second is in Banten West Java, a site from the classical period. This data is important because it supports and confirms our suppositions of the dating of several types of beads which we have forwarded in the first edition.

Sejak akhir tahun 1970-an, dipasar loak jalan Surabaya, Jakarta, kita dapat mengamati untaian manik tua dari batu dan kaca dalam jumlah yang besar. Sebagian besar datang dari Jawa Timur. Gejala ini disebabkan karena permintaan yang diciptakan para kolektor asing dan pedagang benda seni yang telah tahu akan kegemaran terakhir : manik tua. Manik antik tidak saja menjadi benda yang diincar kolektor tetapi juga merupakan aksesoris yang berharga. Dipakai dengan pembatas dan anting dari emas atau perak, manik dengan bangga dipakai oleh wanita wanita yang peka terhadap mode mutakhir.


Since the late 1970's, at the flea market in jalan Surabaya, Jakarta, one can observe strings of antique stone and glass beads in great quantities. The majority came from East Java. This phenomenon was caused because of the demand created by foreign collectors and art dealers who were already informed about the latest craze : old beads. Old beads became not only a collectors item but are also valuable accessories. Worn with gold or silver spacers and pendants they are proudly worn by ladies sensitive to the latest fashion.

Kami mulai sadar akan kegemaran terakhir ini baru bulan november 1987 ketika di Jakarta diselenggarakan sebuah pameran manik yang disponsori oleh Kedutaan Besar Filipina. Manik manik yang sudah diuntai menjadi kalung itu kemudian dijual dengan harga tinggi. Promosi penjualan dengan cara demikian akan merangsang permintaan akan manik antik sehingga cepat akan menghilang dari pasaran Indonesia.


We started to become aware of this latest craze only in november 1987 when a bead exhibition was mounted in Jakarta sponsored by the Embassy of the Philippines. The beads already stringed in necklaces were afterwards sold for high prices. Sales promotion of this kind will stimulate the demand for old beads which will quickly disappear from the Indonesia market.


Karena kepustakaan mengenai manik tua yang ditemukan di Indonesia tidak banyak dan tercerai berai, kami khawatir bahwa bahan bahan serta keterangan yang berharga akan hilang untuk selamanya bagi generasi mendatang. Di Indonesia, manik selalu dihubungkan dengan penduduk di Kalimantan dan Nusa Tenggara Timur yang memakainya pada berbagai upacara. Banyak orang juga percaya bahwa semua manik itu diimpor. Sedikit orang menyadari bahwa tradisi yang berhubungan dengan manik juga ada di Jawa dan Sumatera dan banyak manik antik yang khas dan indah, sebenarnya pada milenium pertama tarikh masehi sudah dibuat di Indonesia.


As literature on old beads found in Indonesia is scarce and scattered, we were concerned that valuable information and material will be lost forever for posterity. Beads in Indonesia are always related to the population in Kalimantan and East Nusa Tenggara who are wearing them on several ceremonies. Many people also believe that all the beads were imported. Few are aware that the traditions connected with beads also existed in Java and Sumatera and that many unique and beautiful antique beads were actually produced in Indonesia, in the first millennium AD.


Oleh sebab itu sebuah buku tentang manik akan memenuhi dua tujuan. Yang pertama adalah menyumbang pengetahuan tentang aneka ragam manik yang ditemukan di Indonesia sejak zaman prasejarah hingga kini dan mendokumentasikannya untuk acuan kemudian hari. Namun dalam hal ini kita menghadapi suatu dilema. Alasan yang absah adalah bahwa buku buku tentang benda tua akan merangsang permintaan akan benda bersangkutan dan akan menaikkan harganya. Para ahli purbakala karenanya mengkhawatirkan pengrusakan lebih banyak lagi terhadap tempat tempat bersejarah melalui penggalian liar. Akan tetapi permintaan yang tak terpuaskan dari pihak kolektor internasional dan pedagang benda seni terhadap benda tua Indonesia akan berjalan terus. Kenyataan menunjukkan bahwa tindakan tindakan pencegahan yang ada tidak memadai.


A book on beads would therefore serve two purposes. The first is to contribute knowledge on the variety of beads found in Indonesia from prehistory until the present, and to document them for future reference. However here we are facing a dilemma. A valid reason is that book on ancient objects will stimulate the demand for the objects concerned and will increase their price. Archaeologists thus fear the damaging of more historical sites by illegal digging. But the insatiable demand by international collectors and art dealers for Indonesia antiques will continue, and as the reality shown, the existing preventing measures are inadequate.

Tujuan kedua adalah dengan menjadikan orang Indonesia insaf akan berbagai aspek menarik dari manik antik yang dijual bebas dipasar, para kolektor setempat akan terangsang seperti kini ternyata bahwa banyak yang ingin menambah pengetahuan mereka tentang benda benda bersejarah dari Indonesia. Dengan demikian mereka menjadi lebih sadar akan kemampuan artistik dan budaya canggih orang Indonesia dahulu kala. Seperti dengan tepat dikatakan oleh Prof. Dr. R.P. Soejono : "Sense of belonging sewajarnya dimiliki oleh masyarakat yang ingin membangun pribadinya, seperti halnya pada masyarakat bangsa kita dewasa ini. Setidak tidak kemauan untuk memelihara dan melestarikan benda benda peninggalan kita harus dimiliki oleh masyarakat dalam rangka pembangunan pribadi bangsa."
Para kolektor setempat dapat pula dianggap sebagai benteng budaya terhadap laju arus ke luar negeri dari banyak benda bersejarah.


The second purpose is that by making Indonesians aware of the interesting aspects of old beads sold freely on the market, local collectors will be stimulated as at present there are many who are eager to know more about Indonesian historical objects. In this way, they become more conscious of the artistic abilities and sophisticated culture of early Indonesians. As Prof. Dr. R.P. Soejono has aptly noted : "A society who wants to build up its identity should have a sense of belonging, at least a willingness to maintain and preserve our historical artifacts." 
Local collectors may also be regarded as a cultural barrier against the flight abroad of many historical objects.


Kami sadar bahwa sebuah buku pertama tentang pokok bahasan apa saja, khususnya tentang manik tua, mempunyai banyak kekurangan. Tujuan utama kami adalah mendokumentasikan aneka ragam manik yang ditemukan disini dan menyajikan datanya yang telah dihimpun hingga sekarang. Dalam hubungan ini kami dengan leluasa mengambil kutipan dari tulisan tulisan peneliti Indonesia maupun asing, khususnya karya karya dari Dr. Peter Francis Jr. Kepala Pusat Penelitian Manik di Amerika Serikat.


We are aware that a first book on any subject, especially on old beads, has many short-comings. Our main aim is to document the various beads found here and to present the data which have been compiled up to the present. In this respect we have freely drawn on the writings of Indonesian and foreign researchers, especially on the works by Dr. Peter Francis Jr. Head of the Center for Bead Research in the United States.


Alasan kedua membuat buku ini adalah bahwa buku ini menjadi dapat model bagi kerajinan manik yang baru tumbuh di Jawa. Sebagaimana halnya dengan lain benda antik populer seperti keramik, buku buku dapat merangsang pasar, bukan saja untuk benda tua itu sendiri tetapi juga untuk tiruannya. Contoh yang baik adalah tiruan India dari manik kaca Venesia (Italia) yang dibuat di India sejak pertengahan abad ke-20.


The second reason for making this book is that it may serve as a model for the fledging bead handicraft in Java. As in the case with other popular antique like ceramics, books can stimulate the market, not only for the old pieces but also for their copies. A good example is the popularity of Indian copies of Italian Venetian glass beads which were made in India since the middle of the 20th century.


Mudah dan murah tersedianya bahan dan perkakas disertai adanya peluang masuk ke pasar, menjadikan pembuatan manik kaca suatu usaha yang memberi harapan dan sudah tentu menguntungkan industri rumah didesa desa. Kemudahan membawanya serta harganya yang rendah menjadikannya mata dagangan yang dicari cari. Keberadaan industri manik setempat juga berarti suatu kesinambungan dari suatu keahlian kuno.


The cheap and easy availability of the material and tools combined with an access to the market makes the manufacture of glass beads a promising handicraft which can only benefit the home industry in the villages. Their portability and low prices will make them a coveted trade item. The existence of a local bead industry will also mean a continuantion of an old craft.


Dalam buku ini, pengantar serta penggambaran dari manik sampai 1300M ditulis oleh Sumarah Adhyatman, sedangkan Redjeki Arifin menulis bab mengenai ragam teknik pembuatan manik dan penggambarannya dari 1400M hingga zaman modern.


In this book, the introduction and the descriptions of the beads up to AD 1300 were written by Sumarah Adhyatman, while Redjeki Arifin did the chapter on the bead techniques and the descriptions of the beads from AD 1400 up to modern.


Agar liputan pengkajian lebih luas, maka disamping dari koleksi kami pribadi, kami telah tampilkan sejumlah manik dari beberapa museum dan dari koleksi teman teman kami. Guna kelanjutan penelitian manik, kami telah mengunjungi berbagai museum di luar negeri, di London, Amsterdam, Murano, Venesia, Mesir, Cina, Vietnam dan Serawak, demikian pula tempat tempat manik di Kalimantan dan Jawa Timur. Foto foto dari berbagai tempat, kecuali disebut lain dibuat oleh penulis.


To make a more comprehensive study, next to the beads in our collection, we have included pieces from several museums and from the collection of our friends. For a futher study of beads we have visited several foreign museums in London, Amsterdam, Murano, Venice, Egypt, China, Vietnam and Sarawak, also bead sites in Kalimantan and East Java. The photographs of several sites, if not otherwise mentioned, were made by the authors.


Banyak bantuan telah kami terima menjelang penerbitan buku ini. Kami mengucapkan terima kasih sebesar besarnya kepada semua teman dan lembaga yang dengan bermurah hati memberi saran dan telah meminjamkan manik manik mereka untuk difoto. Terima kasih khusus ditujukan kepada Dr. Peter Francis Jr. untuk bimbingannya yang sangat berarti dan bagi kesediaannya menulis kata pengantar untuk buku kami ini. Juga kepada Ibu Rina Yunus yang membuat gambar gambar manik.


Many assistance was received towards the publication of this book. We would like to thank warmly all our friends and institutions who have helped freely with advice and have lent their pieces for photographs. A special note of thanks goes to Dr. Peter Francis Jr. for his valuable guidance and for his willingness to make a foreword to our book. Also to Mrs. Rina Yunus who did the drawings of the beads.


Kami mengucapkan terima kasih yang sedalam dalamnya atas kemurahan hati para sponsor kami, khususnya kepada Prof. Dr. Mochtar Kusuma Atmadja yang juga telah bersedia menulis sebuah pengantar. Tanpa bantuan keuangan merka, buku ini tak mungkin mencapai tingkat penyajiannya yang sekarang ini. Kami sangat berhutang kepada suami kami yang telah memberikan bantuan dan dorongan semangat dan kepeda merekalah buku ini kami persembahkan. Kepada Kim Adhyatman yang telah membantu kami sepanjang pembuatan buku ini, dan untuk mengenang Dick Arifin, yang telah mencetuskan perhatian isterinya kepada manik lama dengan membawa pulang seuntai manik dari Ujung Pandang pada tahun 1978.


We express deep gratitude for the generosity of our sponsors, especially to Prof. Dr. Mochtar Kusuma Atmadja who also consented to write a foreword. WIthout their financial support this book would not reach its present appearance. We owe much to our husbands from whom we have received many encouragement and assistance, and to whom we dedicate this book. To Kim Adhyatman, who has helped us throughout the making of this book, and in memory of Dick Arifin, who started his wife's interest in old beads by bringing a string home from Ujung Pandang in 1978.


Kami berharap dengan tulus bahwa penerbitan pertama tentang manik yang ditemukan di Indonesia ini, dengan segala kekurangannya, akan merupakan sumbangan yang bermanfaat bagi kepustakaan mengenai manik di Indonesia dan akan menggalakkan penelitian dibiadang ini.


We sincerely hope that this first publication on beads found in Indonesia, with all its limitations, will be a useful contribution to the literature on beads in Indonesia and will stimulate research in this field.


Para Penulis
The Authors
on May 22nd 2012


Now it is time to see how the jewelry designers create something beautiful using java beads or Indonesia beads. These jewelleries are undeniably chic, classic and etnic.


 ...by Yunikua Art...


...by D' Laila...

...by Nedjma Bazaar...



Tuesday, May 1, 2012

The History of Polymer Clay

Most of you have already known polymer clay bead right. You used them for your jewelry design. Have you curious how the polymer clay been discovered? 

I found this article written by Jackie Mello on her blog. Although it written in 2009, but the information is still deserve to be known by all of us. Click Here...

After polymer clay popular on craft world, a lot of people decide to be independent artisan for polymer clay bead and jewelry. They made polymer clay bead supplies and or jewelry as well. And of course a lot of polymer clay beads made by manufacture enliven the market too. If you want personal polymer clay beads for your jewelry design, independent artisan is the best choice. Asked them to made special design just for you. Or perhaps you already have the design, so just explain to them what you want. Below is some independent artisan for polymer clay beads supplies, ready to made custom order.



...by Beads Planet...


...by Sigaliot...

With no intention to disrespect to manufacture polymer clay beads, it seems like manufacture polymer clay beads also  offer you a variety of shapes and color to choose. Nothing wrong to combine manufacture and artisan handmade into one design. The important is your jewelry design is originaly yours. Here some manufacture polymer clay beads.

...on Manik Jawa...

....on Pretty M...

...on Hobihobi Monte...

Now...it's time to take a look some jewelry maker who use polymer clay beads for their design. Please be wise to not copy the design for your benefit without permission.

...by Lili Nurani...


...by Astrid Adhityani...

...by Sara Amrhein

...by Manik Santi...

Tuesday, April 10, 2012

Bead History : Beads In Indonesia (Part I)

All the information in adapted from a book with title Manik-Manik di Indonesia (Beads In Indonesia). This hardcover book was published in 1993. And it seem to be rare book. Cause we have browse in any book stores, wheter online or offline, we still can't find the book. We hope the author of the book doesn't mind if the contents of his book to be rewritten on this blog.


  • Hardcover: 164 pages
  • Publisher: Djambatan; Second edition (1993)
  • Authors : Sumarah Adhyatman & Redjeki Arifin
  • Language: Indonesia & English
  • ISBN-10: 9794281697
  • ISBN-13: 978-9794281697


Back Cover
Front parts of this book, such as page tittle or contents, we leave it in the jpeg format. So you need to click on the picture to see it more clearly. We suggest you to download the file, and then open the file using Windows Picture and Fax Viewer. You can adjust the picture to your needs easily.


Page Title

Copyright

Published date

Contents A

Contents B

Foreword A

Foreword B

Special Foreword A

Special Foreword B
We will continue Special Foreword C in here...


Untuk membantu memelihara catatan mengenai manik di Indonesia itulah, maka buku ini disusun dengan seksama. Manik tidak mungkin ditempatkan kembali dalam suasana lingkungannya yang dipelajari dengan baik. Tetapi sekurang kurangnya mendokumentasikan apa yang dapat ditemukan, lebih baik daripada sama sekali tidak berbuat apa apa.
It is to help preserve a record of the beads in Indonesia that this volume has been put together with care. There is no way the beads can be placed back into their context so that they can be properly studied. But at least documenting what is to be found is better than nothing at all.

Saya merasa mendapat kehormatan diminta menyumbangkan kata pengantar pada buku ini. Saya melakukannya dengan mengucapkan terima kasih kepada kedua penulis atas segala kebaikan yang telah mereka lakukan untuk saya dengan harapan agar buku ini dapat memacu orang lain memahami bahwa manik kecil yang paling sederhana pun adalah bagian penting warisan kita bersama dan perlu diperlakukan dengan respek.
I was honored to be asked to contribute a foreword to this book. I do so with thanks to the authors for all the many kind things they did for me and with the hope that it may spur others to understand that even the simplest little beads are an important part of the heritage of all of us and need to be treated with respect.


Akhirul kata, perlu disampaikan bahwa kedua penulis berbagi keyakinan dengan saya bahwa sesungguhnya bukan manik yang penting. Walau banyak diantaranya indah menyenangkan, bukan manik itu sendiri yang ingin kita fahami, melainkan apa yang diungkapkannya kepada kita tentang saudara saudari kita diseluruh dunia : harapan dan kecemasan, cinta dan kebencian, kejayaan dan tragedi mereka dahulu dan sekarang.
Finally, let it be said that the authors share with me the belief that ultimately it is not the beads which are important. As wonderful as many of them are, it is not the beads themselves which we seek to understand, but what they can tell us about the hopes and fears, the loves and hates, the triumphs and tragedies, past and present, of our brothers and sisters around the world.


Peter Francis, Jr
Director, Center for Bead Research
Lake Placid, New York, USA




Next on May 8th 2012...


Preface...a book on beads would therefore serve two purposes...












Introduction...in Indonesia beads are found in archaeological excavations near temples or religious sites, settlements and in graves...

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...